Ada bebrapa kriteria atau tanda-tanda seorang anak usia prasekolah siap untuk memasuki jenjang pendidikan berikutnya, yaitu :
Keterampilan bersosialisasi
Keterampilan bersosialisasi meliputi kemampuan anak berempati terhadap orang lain, berinteraksi sosial, berbagi (sharing), dan berpartisipasi dalam kegiatan kelompok.
Kemampuan mengikuti instruksi sederhana,
Seperti patuh terhadap aturan yang ditetapkan diluar keluarganya.
Kemampuan berkomunikasi
Minimal si kecil mampu menyampaikan kebutuhan dan keinginan secara verbal, kemampuan menyebut nama dirinya, mampu menyimak cerita atau penjelasan yang dibacakan.
Kemandirian berupa keterampilan self help and self care
Keterampilan Self help yaitu dapat menggunakan toilet ketika mau buang air, mengenakan pakaian sendiri, ditandai dengan kemampuan mengancing baju atau menggunakan zipper.
Sedangkan keterampilan self care untuk hal yang sederhana, misalnya makan sendiri, ambil minum sendiri.
Siap dan kuat secara fisik
Untuk menjadi siswa TK, si kecil harus mampu mengikuti jadwal dan kegiatan tertentu, juga tahan tidak tidur selama paling tidak 4 jam selama di TK. Kesiapan fisik ini antara lain ditandai dengan anak dapat mengatasi rasa kantuk atau lelah tanpa menjadi rewel.
Siap secara psikologis
Anak yang sudah matang, tidak akan menemui masalah ketika harus berpisah dari ibu atau pengasuhnya pada jam-jam sekolah. Si kecil juga mampu memusatkan perhatian dan mengikuti jadwal rutin setiap hari.
Dari penjabaran poin-poin di atas, tidak jarang anak sudah siap dalam satu hal tetapi tidak dalam hal lain. Setidaknya ada beberapa poin yang dimiliki si kecil. Misalnya tidak masalah si kecil belum mampu bersosialisasi karena ruang lingkup bermainnya selama ini hanya di rumah, tapi dalam aspek kemandirian dan kemampuan berkomunikasi sudah siap. Poin-poin yang belum dimiliki si kecil bisa diasah dan dilatih mulai sekarang, agar si kecil siap bersekolah di TK.
Kesiapan si kecil masuk TK, sangat tergantung pada orang tua. Orang tua harus melatih si kecil untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya diluar kelompok bermainnya.
Latihan bersosialisasi:
Untuk latihan bersosialisasi bisa mengundang teman-temannya main ke rumah atau mengajak si kecil untuk berkunjung ke tetangga atau saudara yang mempunyai anak kecil juga. Sediakan alat-alat gambar dan kertas,biarkan mereka melakukan aktifitas dan berkreasi sendiri, belajar berbagi menggunakan alat gambar.
Latihan kemandirian:
Ajarkan si kecil dalam mengenakan pakaian sendiri. Latih dan motivasi untuk mengenakan sendiri celana, ajarkan dengan tepat membuka dan menutup ritsleting, mengancingkan sendiri kemejanya. Ajarkan si kecil cara buang air besar dan kecil, dan cara membersihkan diri setelah melakukannya secara bertahap.
Latihan kemampuan berkomunikasi:
Biasakan anak mengungkapkan keinginan, Kebutuhan, dan perasaannya secara verbal. Latih juga sikecil untuk menceritakan kembalo dongen atau cerita yang anda bacakan.
Latihan mengikuti jadwal rutin:
Ajak si kecil makan atau tidur siang diwaktu yang sama secara terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Tujuannya agar terbentuk “jam otomatis” atau kebiasaan yang membuatnya siap makan atau tidur pada waktunya. Ketika saatnya masuk TK, yang mempunyai jadwal rutin, anak sudah terbiasa.
Walaupun keliahatannya sepele, latihan-latihan ini merupakan usaha yang efektif untuk melatih keterampilan dan kesiapan si kecil untuk memasuki “dunia baru” di akhir masa balitanya.
Cermati dan Evaluasi
Awali dengan mencermati apa si kecil siap bersekolah. Artinya bila anak sulit melakukan rutinitas bersekolah, bisa diajarkan secara bertahap. Untuk anak tertentu, misalnya hiperaktif atau autis, perlu sekolah khusus.
Selanjutnya, apakah sekolah yang dipilih sesuai dengan nilai-nilai yang dikembangkan dalam diri anak? Selaraskan pendidikan di sekolah tersebut dengan nilai-nilai yang ingin dikembangkan keluarga, misalnya pada pendidikan agama.
Bagaimana ragam aktivitas yang ditawarkan? Apakah kurikulum sekolah sesuai dengan perkembangan usia anak TK atau tidak? Apakah anak dipaksa belajar membaca, menulis atau mengerjakan pekerjaan rumah? Bagaimana penerapan disiplin di sekolah, kaku/otoriter atau fleksibel?
Ketika sekolah yang dipilih dikemudian hari tidak sesuai harapan, sebaiknya orang tua melakukan evalusai. Apakah ketidaksesuaian tersebut benar-benar tidak bisa dikompromikan antara pihak orang tua dan sekolah.
Bila tidak ada titik temu, bisa saja memindahkan anak sekolah lain, bila memungkinkan.. Idealnya, pindah sekolah dilakukan saat semester baru, sehingga anak memiliki kesempatan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Ditulis oleh Ibu Yanti dan Ibu Nurfaedah
disadur dari Tabloid Ayah Bunda
Senin, 03 Maret 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar